Sejarah Patung Sigale-gale: Upacara Kematian Sakral hingga Jadi Ikon Wisata Samosir

Foto patung Sigale-gale di Tomok, Samosir (dok. Istimewa )


Misteri dan Pesona Sigale-gale: Patung Mistis yang Menghibur Hati Seorang Raja Batak

Kawasan Danau Toba tidak hanya menyajikan pesona alam yang dapat memikat mata, tetapi juga menyimpan banyak sejarah perjalanan budaya Batak yang sampai saat ini masih terlestarikan.  
Salah satu warisan leluhur masyarakat Batak Toba yang paling ikonik hingga saat ini adalah Patung Sigale-gale. Dimana patung ini menjadi salah satu pusat perhatian para wisatawan yang berkunjung ke Danau Toba.
Di balik gerakannya yang khas saat manortor (menari), patung Sigale-gale akan mengikuti alunan musik Gondang Sabangunan dengan lihai layaknya seperti orang penari benaran.
Perlu diketahui, ada sebuah kisah sejarah yang pilu dimana ada seorang Ayah yang sangat merindukan anaknya yang telah gugur saat berperang.

Asal-Usul: Duka Mendalam Raja Rahat

Menurut cerita rakyat Batak Toba, pada zaman dahulu kala di Pulau Samosir, terdapat sebuah kerajaan kecil yang dipimpin oleh seorang raja bernama Raja Rahat
Sang raja hanya memiliki seorang anak tunggal yang sangat ia cintai bernama Manggale
Sebagai anak semata wayang, Manggale tidak hanya menjadi penerus  takhta orang tuanya, melainkan ia harus menjadi benteng utama untuk melindungi rakyatnya dari penjajahan kerajaan lain.
Suatu hari, wilayah kerajaan Raja Rahat terusik oleh para penjajah yang ingin mencoba merusak ketentraman warga dan wilayahnya. 
Untuk mengantisipasinya sang Raja pun harus segera mencegah penjajah memasuki wilayahnya, akhirnya ketegangan pun terjadi di perbatasan wilayah.
Sebagai calon pemimpin kerajaan, Manggale tidak bisa berdiam diri saja melihat kerjaan ayahnya di usik kerajaan lain. Manggale pun mengajukan dirinya untuk memimpin pasukan maju ke medan perang demi mempertahankan wilayah dan rakyatnya.
Melihat kegigihan Manggale ingin melindungi rakyat dan wilayahnya, akhirnya ayahnya pun menyetujuinya untuk terjun ke Medan tempur.
Namun, takdir berkata lain. Dimana Manggale gugur sebagai pahlawan. Salah satu pasukan pun kembali kerajaan untuk menyampaikan berita duka ini, Raja Rahat hanya bisa tertegun dan sontak sambil meneteskan airmata.
Ini menjadi pukulan telak bagi sang Raja Rahat, dimana putra semata wayangnya hanya pulang tinggal nama. Jasad pangeran Manggale pun tidak bisa ditemukan usai perang berakhir, membuat perasaan Raja Rahat pun semakin tersiksa karena tidak bisa melihat anak tercintanya untuk terakhir kalinya.


Kerinduan yang Menggerogoti Hati Raja Rahat 

Kehilangan anak satu-satunya membuat Raja Rahat jatuh sakit akibat memikirkan Manggale setiap hari, tubuhnya kian hari semakin kurus dan lemah akibat diliputi kesedihan. 
Kerinduannya yang amat mendalam terhadap Manggale membuatnya kerap mengingat sambil memanggil-manggil nama putranya saat tertidur.
Melihat kondisi kesehatan raja yang terus memburuk, para tetua adat dan tabib kerajaan berembuk untuk mencari jalan keluarnya. 
Mereka paham bahwa untuk menyembuhkan penyakit sang raja harus dimulai dari mengobati batinnya yang terluka, setelah melalui diskusi panjang, para tetua adat dan tabib pun bersepakat membuat sebuah patung yang menyerupai Manggale.
Para tetua kemudian mengutus seorang dukun (datu) dan pemahat kayu paling andal di tanah Batak. 
Mereka pergi ke dalam hutan belantara untuk mencari kayu pohon pilihan, ahli pemahat tersebut kemudian meminta salasatu pengawal kerajaan yang sangat mengenal detil wajah Manggale.
Ahli pahat pun langsung mengerjakan tugasnya membuat patung kayu yang wajah dan postur tubuhnya dibuat sedetail mungkin agar mirip dengan mendiang Manggale.

Asal-usul Patung Sigale-gale 

Setelah patung kayu Manggale selesai dipahat, kemudian datu pun menggelar sebuah ritual adat yang sakral. Untuk menghidupkan suasana, patung tersebut dipakaikan busana kebesaran adat Batak lengkap dengan kain Ulos yang tersampir di pundaknya.
Melalui ritual mistis yang dipimpin oleh datu bolon, datu pun memohon dan memanggil arwah Manggale untuk masuk ke dalam patung yang telah disediakan.
Ritual panjang pun berjalan mulus dimana saat gondang dipukul patung Manggale pun langsung bergerak mengikuti alunan musik Gondang, Raja Rahat pun langsung terkejut karena seakan-akan melakukan melihat putranya hidup kembali.
Disclaimer terlebih dahulu, ada yang percaya jika patung Manggale ini digerakkan dengan media roh Manggale langsung. 
Adapula yang meyakini jika patung Manggale ini digerakkan menggunakan mekanisme tali-tali halus yang tersembunyi dan tidak bisa dilihat sepintas dari luar.
Para pengamat sejarah beranggapan, jika teknik pmenggerakkan patung menggunakan tali adalah teknologi sangat maju pada zamannya.
Dimana patung tersebut bisa menggerakkan tangan, melihat ke kanan dan ke kiri bahkan bisa melangkah layaknya manusia yang sedang menari Tortor.
Melihat patung kayu tersebut bergerak luwes seolah-olah putranya telah kembali dari medan perang, air mata Raja Rahat mengalir deras sambil menatap patung tersebut.
Kesedihan yang telah lama membeku pun mulai perlahan mencair, sang raja perlahan bangkit dari tempat tidurnya dan ikut menari bersama patung tersebut.
Dan setelah itu, kesehatan sang raja pun perlahan-lahan kembali pulih. Saat Raja Rahat merindukan anaknya, patung tersebut akan dimainkan hingga rasa raja terpuaskan.
Patung itulah yang kemudian dikenal masyarakat luas hingga saat ini dengan sebutan patung Sigale-gale.
Di zaman sekarang, patung Sigale-gale hanya bisa digerakkan oleh dalang yang telah profesional.


Nilai Budaya dan Relevansinya Hari Ini

Secara historis, pembuatan patung Sigale-gale di masa lampau ada kaitannya dengan konsep adat Saur Matua
Dalam tatanan adat Batak, meninggal tanpa memiliki keturunan laki-laki (mompohan) dianggap sebagai sebuah kemalangan yang besar karena garis silsilah terputus. 
Sigale-gale digunakan sebagai media pengganti anak laki-laki untuk mengantarkan kepergian orang tuanya ke alam baka melalui tarian penghormatan terakhir.
Kini, fungsi mistis dan sakral dari patung Sigale-gale telah bergeser menjadi warisan budaya yang bernilai tinggi. 
Patung Sigale-gale tidak lagi digerakkan melalui ritual magis, melainkan murni digerakkan oleh orang-orang yang sudah profesional sebagai dalang patung.
Wisatawan dari berbagai penjuru dunia, pasti mendatangi patung Sigale-gale karena sudah menjadi salah satu ikon sejarah Batak yang wajib dikunjungi.
Patung Sigale-gale hanya bisa ditemukan di Tomok dan Huta Siallagan dan rumornya ada juga di Simanindo, jadi para wisatawan hanya bisa menyaksikan langsung pesona patung Sigale-gale ini menari di wilayah tersebut.
Perlu digarisbawahi, patung Sigale-gale bukanlah sekadar pertunjukan hiburan. Ia adalah monumen hidup dari sebuah pesan universal: bahwa seni dan budaya memiliki kekuatan luar biasa untuk menyembuhkan luka batin manusia yang paling dalam.

Catatan: sebagian cerita rakyat Batak diatas narasinya ditamahi penulis, tujuannya agar pembaca bisa lebih mudah mencerna alur ceritanya 

Posting Komentar untuk "Sejarah Patung Sigale-gale: Upacara Kematian Sakral hingga Jadi Ikon Wisata Samosir"